Opini Oleh: L. Martadinata
Penggagas 'Embun Jiwa Institut'
Kebangkitan Spiritual, demikian tajuk perbincangan hangat para pencari cahaya. Hal ini ditandai bertumbuhnya kesadaran ruhani. Muncul di permukaan para pelaku dan pemikir yang menyampaikan pengalaman dan pentingnya kesadaran ruhani.
Kesadaran ruhani adalah kesadaran esensi, sari pati, diri sejati yang merupakan tiupan dari Tuhan Yang Maha Esa, Zat Yang Maha Agung. Keberadaan diri yang merupakan kendali dan kehendak Nya. Dengan kesadaran ruhani, seseorang menempa dirinya untuk senantiasa menyelaraskan pikiran, hati dan perbuatannya dengan kehendak Sang Pencipta. Segala yang dilakukannya adalah untuk persembahan kepada Zat Yang Esa.
Meritokrasi menjadi kata yang menggema di Nusa Tenggara Barat semenjak Iqbal Dinda ditetapkan sebagai gubernur dan wakil gubernur terpiih.
Meritokrasi adalah sistem sosial yang menekankan bahwa kesuksesan dan keberhasilan seseorang ditentukan oleh kemampuan dan prestasinya. Dalam sistem meritokrasi, orang yang memiliki kemampuan dan prestasi yang lebih tinggi akan mendapatkan pengakuan dan reward yang lebih besar.
Dalam momemt buka puasa bersama para relawan di pendopo tengah, Gubernur Iqbal menyampaikan cerita yang menyiratkan kerisauan sekaligus harapnnya " Saya telah bertemu beberapa calon kepala OPD, mereka sangat menguasai teknis pekerjaanya, mereka hebat dibidangnya, namun karakter dan prilakunya.. . " Gubernur Iqbal menggeleng sembari tersenyum. Beliau melanjutkan "maka pilihan kita adalah membangun sistem yang baik".
Mencari pribadi yang berkeunggulan dalam prestasi kerja sekaligus memiliki kesadaran ruhani memang tidak mudah, namun bukan satu hal yang mustahil. Sekitar 20 tahun lalu kami berkenalan dan selanjutnya melakukan sinergi dibidang sosial dan pembangunan dengan salah seorang birokrat muda berinisial AH di Mataram. Beliau adalah seorang master teknik. Beliau bekerja dengan kesadaran ruhani. Mengerjakan tugas teknis dengan hasil terbaik, menerima yang hanya merupakan haknya, disiplin, menolak suap, menghilangkan pungli, anti korupsi. AH melakukannya dengan konsisten, beliau menjadi sosok "aneh" dan sering berbeda sikap dengn teman kantor bahkan atasannya. Akibatnya, AH dipindahkan ke bagian yang menangani juru parkir. AH menerimanya dengan bahagia, menata urusan perparkiran sekaligus memberikan pembekalan dan bimbingan kepada para juru parkir, salah satunya menguatkan organisasi juru parkir.
Menjelang ramadhan ini, kami berjumpa dan AH masih dengan spirit yang sama. Zat Yang Maha Agung menetapkan scenario perjalanan hidup, setiap diri diberi kesempatan untuk mengambil pilihan sikap atas setiap sesi perjalanan. Ada yang mengambil pembelajaran sehingga ruhaninya tercerahkan, ada yang tenggelam dan lupa diri dalam peran yang diberikan sehingga ruhaninya terpenjra oleh sikapnya sendiri.
Gubernur Iqbal tetap harus mengambil keputusan, menetapkan birokrat terbaik dari yang tersedia. Untuk selanjutnya perlu memikirkan cara agar tumbuh kesadaran ruhani pada diri setiap kepala OPD nantinya. Kesadaran sebagai makhluk Tuhan, bekerja sebagai persembahan/sembah/ibadah. Bekerja dengan jujur, syukur dan sabar. Menolak korupsi, suap, fee, pungli. Bekerja sepenuh hati melayani.
Boleh dicoba awali penggemblengan dengan mendaki rinjani. Merasakan hembusan angin, menciun aroma dedaunan di hutan, merasakan perih dan letih. Setelah mandi air panas, kita duduk setengah lingkaran tafakur di pinggir segare anak sembari memandangi gunung baru jari.
Harapan baru, baru jadi maka jadikanlah langkah baru untuk NTB Makmur Mendunia.
Komentar0